Mitos atau fakta? Pertama-tama, bersiaplah untuk mendengar kebenaran bahwa
pria juga mengalami menopause. Jadi, bukan hanya para wanita saja yang akan
mengalaminya, walaupun memang tidak semua pria harus mengalami hal ini. Menopause
pada pria dikenal dengan andropause (andro berarti pria ; pause berarti
berhenti). Hal ini tidak melulu berbicara tentang perubahan kemampuan
reproduksi seseorang, tetapi melibatkan perubahan-perubahan hormonal dan
psikologis yang dialami oleh pria berusia lanjut. Hal ini dapat terlihat secara
fisik, tetapi sebenarnya berdimensi sosial bahkan spiritual.
Istilah menopause pria dipakai untuk menjelaskan kondisi penurunan kadar
testosteron pada pria usia lanjut. Diperkirakan 30% pria di usia 50-an akan
mempunyai kadar tetosteroncukup rendah sehingga akan menyebabkan pelbagai
perubahan, seperti mudah letih, lesu, lemah, kaku pada otot, rambut rontok,
kulit kering, gairah seksual menurun, penis mengecil, bahkan bisa terjadi
impotensi.Pria bermenopause mengalami perubahan emosi, biasanya mereka jadi
merasa kurang percaya diri, mudah marah, sulit tidur, timbul rasa cemas, dan
berlanjut dengan depresi.
Temuan para tim peneliti ini berdasarkan hasil studi dengan metode random sampling partisipan dalam European Male Aging Study. Sampling
mereka mencakup 3.369 pria antara usia 40 tahun dan 79 tahun yang datang dari
delapan negara Eropa. Frederick CW dan rekannya mengamati orang-orang tersebut
terkait kesehatan fisik, seksual, dan psikologisnya. Gangguan seksual yang
ditemukan yaitu disfungsi ereksi, kurangnya gairah seks, dan penurunan
frekuensi ereksi pada pagi hari. Sedangkan gejala fisik yang ditemukan adalah kesulitan
dalam melakukan aktivitas yang memerlukan fisik kuat, ketidakmampuan untuk
berjalan satu kilometer, dan kesulitan untuk menekuk atau membungkuk. Masalah
psikologis sendiri yaitu kekurangan tenaga, merasa sedih, dan kelelahan.
Dalam usia rawan, seorang pria yang mengalami menopause harus memperhatikan
bagaimana ia hidup:
Pertama dari segi jasmani. Makanan harus diperhatikan, karena dalam keadaan
seperti ini, penyakit dapat dengan mudah mulai menyerang. Jangan mengkonsumsi
obat-obatan berbentuk apapun yang katanya dapat mengembalikan semangat muda
kembali, karena efek yang berlaku biasanya justru akan menambah benang kusut.
Kegiatan olah raga harus terus dijalani dengan tidak menyentuh alkohol apalagi
rokok.
Kedua dari segi sosial. Pria harus mulai bersosialisasi dengan lebih luas
dalam lingkungannya. Ikut pelayanan atau bakti sosial akan sangat baik efeknya.
Seorang pria yang berkeluarga juga harus mulai memperbaiki hubungan dengan anak
dan istri, bukannya justru menjadi renggang. Pulihkan hubungan yang buruk,
saling introspeksi diri dan saling terbuka, serta meningkatkan kadar komunikasi
dua arah yang positif.
Ketiga dari segi rohani. Semua buku yang membahas tentang andropause akan
menyarankan pria untuk kembali melihat pada hubungannya dengan Tuhan. Ini bukan
hanya nasehat belaka. Inilah esensi kehidupan. Bahwa sejak seseorang dilahirkan
sampai masa tuanya, ada panggilan hidup tertinggi dalam kehidupan seseorang.
Panggilan yang lebih tinggi dari hanya ‘sekedar' menjadi pekerja, menjadi ayah
atau suami, tetapi menjadi makhluk Tuhan yang Ia ciptakan segambar dan serupa
dengan-Nya dan dipanggil untuk menggenapi rencana-Nya. Itu adalah arti hidup
yang sebenarnya.
Dengan berada pada posisi ini, maka andropause sekalipun tidak akan lagi
menjadi masalah penting dalam kehidupan seorang pria. Setuju?
Referensi
1. Apakah Menopause Pria Itu Ada?
http://blogmasarif.wordpress.com/2010/12/25/apakah-menopause-pria-itu-ada
2. Gejala Menopause Pada Pria
3. Menguak Menopause pada Pria http://lifestyle.okezone.com/read/2010/06/25/27/346479/menguak-menopause-pada-pria
4.
Apakah pria juga menopause?
5.
Menopause pada pria
pause-Pria.html
6.
www.fordearest.wetpaint.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar